Jumat, 23 Desember 2011

Subhanallah... Air Juga Bisa Mendengar dan Melihat!

Suatu ketika, sekitar 12 tahun yang lalu, guru saya di SMA pernah menunjukkan kepada kami, sebuah gambar kristal air hasil foto menggunakan mikroskop elektron. Wow, saat itu saya begitu takjub dengan penampakan kristal yang begitu indah.Nah, belum hilang ketakjuban saya, guru saya tersebut menunjukkan gambar kedua, yaitu gambar kristal air yang katanya sudah diberi doa. Woow, saya takjub untuk yang kedua kalinya. Bagaimana tidak, kristal air itu nampak jauh lebih indah dari pada gambar yang pertama.

Nah, beberapa waktu yang lalu, saya tiba-tiba teringat pada memori tersebut. Langsung saja, memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini, saya browsing kesana-kemari untuk sekedar bernostalgia dengan gambar kristal air tersebut. Cukup lama dan butuh kesabaran untuk menemukan apa yang saya maksud, mengingat saya tidak bisa memilih keyword apa yang tepat untuk gambar yang saya maksud. Akhirnya, setelah buka sana-buka sini, download sana-download sini, saya menemukan kata kuncinya: MASARU EMOTO. Lho, koq..? Ya, Masaru Emoto.

Masaru Emoto
Masaru Emoto adalah seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang yang melalui penelitiannya mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air. Melalui pengamatannya terhadap lebih dari dua ribu contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia disekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen.

Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi "indah" dan "mengagumkan" apabila mendapat reaksi positif disekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun partikel kristal air terlihat menjadi "buruk" dan "tidak sedap dipandang mata" apabila mendapat efek negatif disekitarnya, seperti kesedihan dan bencana.

Emoto menggunakan media suara dan tulisan dalam mengungkap bentuk kristal air yang telah dibekukan.. Berikut beberapa contoh hasil penelitiannya.

Kristal air "normal"

Mendengar
Saat diperdengarkan lagu yang nyaman didengar, misalnya alunan "Symphony No. 40 in G Minor" karya Mozart, maka kristal air berbentuk seperti ini:
Symphony No. 40 in G Minor
Namun, saat diperdengarkan lagu beraliran heavy metal, susunan kristal air berubah menjadi seperti ini:
Heavy Metal

Gambar berikut ini menunjukkan kristal air saat dikatakan CINTA:
Cinta
Sedangkan gambar berikut ini, bentuk kristal saat dikatakan SEDIH:
Sedih
Melihat
Kristal air ternyata juga bisa berubah ketika dituliskan sesuatu di botolnya, misalnya:
Saat dituliskan "Thank You" kristal air berbentuk indah seperti berikut:

Bandingkan saat botol ditulisi "You Make Me Sick. I will Kill You", kristal air berbentuk seperti ini:
Atau saat ditulisi "YOU FOOL" seperti foto berikut:

Saat dituliskan "BEAUTIFUL", kristal air berbentuk:

Sedangkan saat botol ditulisi "DIRTY", kristal air berbentuk seperti ini:

Nah, jika Anda menyuruh seseorang melakukan sesuatu dengan lembut seperti "Let's Do It", maka kristal air berbentuk:
Sedangkan jika kita meminta dengan menyuruh atau membentak, seperti "Do It!", maka kristal air juga berubah menjadi:

Bahkan, kristal air bisa berubah saat membaca nama orang. Berikut foto kristal air saat ditunjukkan nama orang baik, seperti "Bunda Teresa":
Bandingkan dengan saat ditunjukkan nama orang 'jahat' macam Adolf Hitler berikut:
Hal yang sama terjadi saat dilakukan perbandingan kata "ANGEL" dengan "DEVIL" seperti foto berikut:
Angel vs Devil
Sebenarnya masih banyak*foto tentang bentuk kristal air hasil percobaan Emoto. Sekitar 90 foto dapat dilihat di bukunya yang berjudul "Messages from Water".

Terakhir, Emoto juga sempat menguji bagaimana bentuk kristal air jika dikumandangkan lagu kebangsaan beberapa negara, termasuk Indonesia Raya. Mau tau gimana bentuknya? Simak di video berikut:

Bagaimana, menakjubkan bukan?
Nah, setelah melihat semua fenomena di atas, maka sudah sepantasnya kita berbuat baik kepada air, agar air yang kita gunakan mendatangkan manfaat baik bagi tubuh kita. Selain itu, hendaknya kita selalu berpikiran positif agar kehidupan kita tetap "sehat". Ingat, 80% tubuh kita tersusun dari air.

Sebagai penutup, saya mengingatkan satu ayat di Al-Qur'an surat Waqi'ah ayat 68-70: 
أَفَرَءَيْتُمُ الْمٓاءَالَّذِى تَشْرَبُوْنَ
"Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum."

ءَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ
"Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?"

لَوْنَشَٓاءُ جَعَلْنٰهُ أُجَاجًافَلَوْلَاتَشْكُرُوْنَ
"Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?"


Subhanallah...

Sabtu, 17 Desember 2011

Toko yang Menjual Calon Isteri



Sebuah bacaan ringan penuh hikmah saya temukan di sebuah situs. Dengan berbagai proses penyuntingan, saya sajikan kepada Anda semua. Selamat menikmati.

* * *

Di suatu negeri, sebuah toko baru dibuka. Animo masyarakat sangat tinggi terhadap kehadiran toko tersebut, terutama para pria. Bagaimana tidak, toko tersebut hanya menjual wanita yang siap nikah untuk dijadikan seorang isteri. 

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai, di mana setiap lantainya dijual calon isteri dengan kriteria tertentu.. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula kriteria dan nilai calon isteri tersebut. Pembeli bebas memilih calon istri di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya. Tapi dengan syarat, dia tidak bisa turun lagi ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar toko. Dan di depan pintu utama toko, jelas sekali terpampang aturan: KESEMPATAN BERKUNJUNG HANYA SEKALI.

Ya, kesempatan berkunjung memang hanya sekali. Untuk menegakkan aturan tersebut, pihak toko telah menyiapkan tingkat keamanan berlapis. Setiap pengunjung yang masuk wajib menyerahkan fotokopi KTP, diambil foto wajah berbagai sisi, scan sidik jari, hingga scan retina mata. Dengan tingkat keamanan seperti itu, maka mustahil seorang pengunjung bisa mengunjungi toko itu lebih dari sekali.

Seiring waktu, toko tersebut semakin ramai. Tidak hanya jejaka dan duda, para pria beristri pun rela antri untuk mendapatkan calon istri yang katanya high quality tersebut. Namun anehnya, walaupun ribuan orang telah mengunjungi toko tersebut, stok calon istri sepertinya tidak habis-habis. Hal ini menimbulkan rasa penasaran pada si Fulan, seorang jejaka kaya di negeri tersebut.

Suatu hari, si Fulan mencoba untuk membeli calon istri di toko tersebut. Setelah melewati prosedur pengamanan pengunjung, masuklah dia ke toko tersebut. Dengan mantap dia memulai tour-nya mencari sang calon istri yang ditawarkan toko tak lazim tersebut.

Dimulai dari lantai 1. Di depan pintu masuk etalase lantai 1, terdapat banner besar bertuliskan: "Wanita di lantai ini ta'at pada Allah dan pandai memasak". Hmmm, gumam si Fulan seraya tersenyum. Dilanjutkannya langkahnya ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2, si Fulan disambut tulisan begini: "Wanita di lantai ini ta'at pada Allah, pandai memasak,dan lemah lembut". Kembali Fulan tersenyum dan melangkahkan kakinya ke lantai selanjutnya.

Di depan pintu lantai 3, Fulan kembali membaca sebuah banner bertuliskan: "Wanita dilantai ini ta'at pada Allah, pandai memasak, lemah lembut, dan cantik banget". "Wow!", senyum si Fulan semakin mengembang.  Pikirannya semakin penasaran dan dia terus melangkah naik.

Sesampainya di lantai 4, lagi-lagi si Fulan dihadapkan pada kriteria yang tertulis di banner di depan pintu etalase. Kali ini bertuliskan: "Wanita di lantai ini ta'at pada Allah, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, dan sayang anak". Perasaan si Fulan tersebut semakin bergetar, dia semakin penasaran. Dengan mantap ditinggalkannya lantai 4 menuju lantai 5. “Pasti di lantai 5 bertambah lagi kriterianya”, batinnya.

Benar dugaannya, di lantai 5 dia kembali disambut sebuah kriteria: "Wanita di lantai ini ta'at pada Allah, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, sayang anak, dan seksi". Sebenarnya sampai sini si Fulan sudah tergoda untuk berhenti. Tapi kemudian dia mengabaikan keinginannya. Dia melangkah kembali ke lantai berikutnya. “Tambah satu kriteria lagi, ah...”, harapnya.

Dengan penuh penasaran dan jantung berdegup keras, si Fulan menapaki satu per satu anak tangga ke lantai 6. Sesampainya di lantai 6, si Fulan heran, karena apa yang dilihatnya jauh dari apa yang ditemuinya di lantai-lantai sebelumnya. Di depannya hanya terhampar ruangan kosong dengan sebuah electronic counter dengan sebuah tulisan: "SELAMAT... Anda adalah pengunjung lantai 6 yang ke-137.876 dari 137.880 pengunjung. Tidak ada wanita di lantai ini, karena semua harapan para pria telah kami sediakan di lantai-lantai sebelumnya. Jika Anda sampai pada lantai ini, artinya Anda adalah pria yang tidak pernah puas dengan apa yang telah tersedia bagi Anda. Terima kasih telah berbelanja di TOKO CALON ISTERI. Hati-hati dalam perjalanan pulang.”

Dengan langkah gontai, si Fulan akhirnya memasuki sebuah pintu berwarna biru bertuliskan EXIT. Sejenak, ia membaca sebuah pesan tertempel di atas pintu: “Syukurilah apa yang telah ada di depanmu”.

* * *

Nah, pembaca yang budiman... Hal yang dialami si Fulan tadi sebenarnya sering menimpa kita. Tidak hanya para pria, wanita pun juga. Kita sering berharap terlalu tinggi dan kadang lupa mensyukuri nikmat yang telah ada. Karena itu, marilah kita selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepada kita, walaupun baru di kriteria lantai 1...

Guliran Panjang Sejarah Kelereng

Pernah bermain kelereng? Ya, Anda pasti tidak asing lagi dengan permainan bola-bola kecil dari kaca tersebut. Dari jaman baheula dulu, kelereng telah menjadi permainan anak-anak dari berbagai kalangan. Begitu menyebarnya permainan ini hingga di setiap daerah memiliki julukan masing-masing, misalnya keneker atau neker (Jawa), gundu (Betawi), guli (Melayu), kaleci (Sunda), ekar (Palembang), atau setinan (Semarang).

Saking tuanya, asal-usul kelereng tidak diketahui secara pasti. Kelereng diperkirakan telah ada sejak peradaban Mesir kuno sekitar tahun 3000 SM. Saat itu kelereng berupa batu dan tanah liat. Kelereng 'tertua' koleksi The British Museum di London berasal dari tahun 2000-1700 SM. Kelereng tersebut ditemukan di Kreta pada situs Minoan of Petsofa. Beberapa sumber juga menyebutkan adanya peninggalan kelereng pada masa Indian di Amerika Utara yang juga berupa tanah liat.

Pada masa Rowami, permainan kelereng juga sudah dimainkan secara luas. Bahkan, menjadi salah satu bagian dari festival Saturnalia, yang diadakan saat menjelang perayaaan Natal. Saat itu semua orang saling memberikan sekantung biji-bijian yang berfungsi sebagai kelereng tanda persahabatan. Salah satu penggemar kelereng adalah Octavian, yang kelak menjadi Kaisar Agustus. Saat itu permainan ini sudah mempunyai aturan-aturan "resmi". Seperti permainan-permainan Romawi lain, peraturan yang berlaku saat itu menjadi dasar permainan sekarang.

Penyebutan istilah untuk kelereng sendiri baru muncul sekitar abad ke-12. Saat itu orang Prancis menyebutnya bille, yang berarti bola kecil. Orang Belanda kemudian mengistilahkan knikkers. Ternyata istilah itulah yang diserap oleh anak-anak Jawa inlander hingga menjadi "neker". Bahkan, istilah neker tersebut juga sempat digunakan di New York pada abad ke-19.

Kelereng populer di Inggris dan negara Eropa lain sejak abad ke-16 hingga 19. Setelah itu baru menyebar ke Amerika. Bahan pembuatnya adalah tanah liat dan diproduksi besar-besaran. Tapi ukurannya tidak selalu sama. Ada yang seukuran kelereng yang biasa kita lihat saat ini, sampai ada yang sebesar buah duku. Dari banyak jenis permainan saat itu, yang benar-benar meluas hanya sembilan permainan, seperti hit and archboard, cherry pit, ringtaw, dan bridgeboard. Namanya boleh asing, tapi peraturan permainanya tak berbeda jauh dari yang dimainkan anak-anak di negeri kita. Seperti berusaha memukul kelereng taruhan di dalam lingkaran atau saling memukul kelereng lawan.

Jika saat ini istilah marbles yang dipakai secara umum untuk kelereng, itu dimulai di Inggris pada tahun 1694 ketika diperkenalkan batu kelereng dari marmer yang didatangkan dari Jerman yang disebut marble. Istilah ini kemudian lebih go international dari pada bowls atau knickers yang lebih dulu familiar di kalangan anak-anak Inggris saat itu.

Pada tahun 1864, di Jerman ditemukan teknologi pembuatan kelereng kaca. Penemuan ini membuat kelereng semakin berwarna mirip kembang gula atau permen. Begitu menariknya sampai-sampai pada saat itu dijauhkan dari anak-anak karena khawatir tertelan. Namun, keindahan yang ditawarkan oleh teknologi ini membuatnya semakin menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika. Namun, akibat Perang Dunia II, pengiriman mesin pembuat kelereng itu sempat terhenti dan masing-masing negara akhirnya harus mengembangkannya sendiri.

Meski terlihat indah, kelereng kaca bukan tergolong barang mahal. Kelereng yang terbuat dari marmer, disebut alley, tetap yang terbaik. Konon, kelereng jenis ini juga lebih akurat jika ditembakkan saat bermain. Namun, untuk taruhan dalam permainan, biasanya tetap digunakan kelereng murah, seperti dari keramik atau kaca.

Pada zaman modern saat ini, perkembangan kelerang sangat pesat walaupun bentuknya masih tetap seperti dahulu. Corak yang ditampilkan jauh lebih 'berwarna', mulai warna-warna dasar hingga lukisan. Bahan yang digunakan pun beragam, misalnya keramik, plastik, baja, hingga kayu. Bahkan, beberapa kolektor ada yang memiliki kelereng dari batu onyx atau akik, emas, hingga mutiara. Tapi semahal apa pun, untuk memainkannya tetap saja harus disentil dengan jari tangan.

[dari berbagai sumber]