Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2011

Toko yang Menjual Calon Isteri



Sebuah bacaan ringan penuh hikmah saya temukan di sebuah situs. Dengan berbagai proses penyuntingan, saya sajikan kepada Anda semua. Selamat menikmati.

* * *

Di suatu negeri, sebuah toko baru dibuka. Animo masyarakat sangat tinggi terhadap kehadiran toko tersebut, terutama para pria. Bagaimana tidak, toko tersebut hanya menjual wanita yang siap nikah untuk dijadikan seorang isteri. 

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai, di mana setiap lantainya dijual calon isteri dengan kriteria tertentu.. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula kriteria dan nilai calon isteri tersebut. Pembeli bebas memilih calon istri di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya. Tapi dengan syarat, dia tidak bisa turun lagi ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar toko. Dan di depan pintu utama toko, jelas sekali terpampang aturan: KESEMPATAN BERKUNJUNG HANYA SEKALI.

Ya, kesempatan berkunjung memang hanya sekali. Untuk menegakkan aturan tersebut, pihak toko telah menyiapkan tingkat keamanan berlapis. Setiap pengunjung yang masuk wajib menyerahkan fotokopi KTP, diambil foto wajah berbagai sisi, scan sidik jari, hingga scan retina mata. Dengan tingkat keamanan seperti itu, maka mustahil seorang pengunjung bisa mengunjungi toko itu lebih dari sekali.

Seiring waktu, toko tersebut semakin ramai. Tidak hanya jejaka dan duda, para pria beristri pun rela antri untuk mendapatkan calon istri yang katanya high quality tersebut. Namun anehnya, walaupun ribuan orang telah mengunjungi toko tersebut, stok calon istri sepertinya tidak habis-habis. Hal ini menimbulkan rasa penasaran pada si Fulan, seorang jejaka kaya di negeri tersebut.

Suatu hari, si Fulan mencoba untuk membeli calon istri di toko tersebut. Setelah melewati prosedur pengamanan pengunjung, masuklah dia ke toko tersebut. Dengan mantap dia memulai tour-nya mencari sang calon istri yang ditawarkan toko tak lazim tersebut.

Dimulai dari lantai 1. Di depan pintu masuk etalase lantai 1, terdapat banner besar bertuliskan: "Wanita di lantai ini ta'at pada Allah dan pandai memasak". Hmmm, gumam si Fulan seraya tersenyum. Dilanjutkannya langkahnya ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2, si Fulan disambut tulisan begini: "Wanita di lantai ini ta'at pada Allah, pandai memasak,dan lemah lembut". Kembali Fulan tersenyum dan melangkahkan kakinya ke lantai selanjutnya.

Di depan pintu lantai 3, Fulan kembali membaca sebuah banner bertuliskan: "Wanita dilantai ini ta'at pada Allah, pandai memasak, lemah lembut, dan cantik banget". "Wow!", senyum si Fulan semakin mengembang.  Pikirannya semakin penasaran dan dia terus melangkah naik.

Sesampainya di lantai 4, lagi-lagi si Fulan dihadapkan pada kriteria yang tertulis di banner di depan pintu etalase. Kali ini bertuliskan: "Wanita di lantai ini ta'at pada Allah, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, dan sayang anak". Perasaan si Fulan tersebut semakin bergetar, dia semakin penasaran. Dengan mantap ditinggalkannya lantai 4 menuju lantai 5. “Pasti di lantai 5 bertambah lagi kriterianya”, batinnya.

Benar dugaannya, di lantai 5 dia kembali disambut sebuah kriteria: "Wanita di lantai ini ta'at pada Allah, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, sayang anak, dan seksi". Sebenarnya sampai sini si Fulan sudah tergoda untuk berhenti. Tapi kemudian dia mengabaikan keinginannya. Dia melangkah kembali ke lantai berikutnya. “Tambah satu kriteria lagi, ah...”, harapnya.

Dengan penuh penasaran dan jantung berdegup keras, si Fulan menapaki satu per satu anak tangga ke lantai 6. Sesampainya di lantai 6, si Fulan heran, karena apa yang dilihatnya jauh dari apa yang ditemuinya di lantai-lantai sebelumnya. Di depannya hanya terhampar ruangan kosong dengan sebuah electronic counter dengan sebuah tulisan: "SELAMAT... Anda adalah pengunjung lantai 6 yang ke-137.876 dari 137.880 pengunjung. Tidak ada wanita di lantai ini, karena semua harapan para pria telah kami sediakan di lantai-lantai sebelumnya. Jika Anda sampai pada lantai ini, artinya Anda adalah pria yang tidak pernah puas dengan apa yang telah tersedia bagi Anda. Terima kasih telah berbelanja di TOKO CALON ISTERI. Hati-hati dalam perjalanan pulang.”

Dengan langkah gontai, si Fulan akhirnya memasuki sebuah pintu berwarna biru bertuliskan EXIT. Sejenak, ia membaca sebuah pesan tertempel di atas pintu: “Syukurilah apa yang telah ada di depanmu”.

* * *

Nah, pembaca yang budiman... Hal yang dialami si Fulan tadi sebenarnya sering menimpa kita. Tidak hanya para pria, wanita pun juga. Kita sering berharap terlalu tinggi dan kadang lupa mensyukuri nikmat yang telah ada. Karena itu, marilah kita selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepada kita, walaupun baru di kriteria lantai 1...

Sabtu, 10 Desember 2011

Kisah Pohon Apel

Kembali, saya tampilkan tulisan relokasi catatan saya di Facebook pada tanggal 20 Agustus 2010 sebagai hadiah ulang tahun Bapak saya. Tulisan ini bercerita tentang hubungan seorang anak lelaki dengan sebatang pohon apel. Bagaimana bentuk hubungan mereka? Silakan mengikuti cerita pendek penuh hikmah berikut ini. Selamat membaca!

* * *
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... Tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku." kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar ?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." Jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." Kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang manusia. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara manusia memperlakukan orang tua.

Ditulis kembali dari www.madinatulilmi.com

Jumat, 04 November 2011

Senandung Atap Seng


Trok... trok… trok….
Hari ini hujan lagi.Suara air yang jatuh menerpa atap seng emper rumahku menemani istirahatku siang ini, setelah seharian sibuk memasukkan lamaran pekerjaan ke sejumlah sekolah di kotaku. Entah apa yang sedang terjadi di langit sana, sehingga di bulan September ini hujan masih membasahi bumi. Padahal, menurut guru IPS ku dulu, bulan September di Indonesia bisa dipastikan sedang musim kemarau. Mungkin saja, bulan September tahun ini, langit sedang gundah, segundah hatiku ini.
Ya, setiap ku mendengar suara hujan menerpa atap seng, jiwaku seolah-olah kembali ke masa lima tahun yang lalu, diiringi tidak beriramanya detak jantungku. Masa di mana dirimu mulai mengisi hari-hariku.Sebagaimana yang disenandungkan oleh atap seng…

Malang, awal Februari 2005

Musim hujan pertamaku di kota Malang, karena baru semester 2 kuliahku di kampus biru ini. Hawa dingin kota ini semakin menusuk bila musim hujan tiba. Apalagi bila hujan turun di malam hari, bisa dipastikan esok pagi aku dan teman-teman kost berangkat kuliah tanpa mandi terlebih dahulu. Ah, sebuah drama yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Siang ini, awan hitam kembali menggelayut di atas kampusku. Para mahasiswa segera bergegas meninggalkan kampus untuk segera tiba di kostnya, dari pada kehujanan di tengah jalan. Namun tidak diriku.Ada satu laporan yang belum kuselesaikan. Padahal deadline-nya hari ini jam 3 sore. Mau tidak mau, aku harus menyelesaikannya kalau tidak ingin nilai akhirku nanti diberi D oleh pak Yogi, si dosen displin itu. Dan siang itu, mbak Vera, asisten dosen pak Yogi yang menunggu tugasku.
“Alhamdulillah… selesai juga.” ujarku sambil menghela nafas panjang. Ya, setelah mengerjakan selama hampir 2 jam, akhirnya kuselesaikan laporan praktikum itu. Segera kuringkas peralatan tulisku. Laporan segera kuserahkan kepada mbak Vera  sambil berpamitan pulang. “Hati-hati dik Bayu, hujan udah mau turun.Apa ndak nunggu sampai nanti sore aja, mungkin hujannya gak lama.” kata mbak Vera. “Ndak, Mbak terima kasih. Ada urusan lain di kostan.” jawabku tak mau berlama-lama.
Segera kutinggalkan ruang 205 itu. Kulirik arlojiku, sudah jam 14.15. Kupalingkan pandanganku ke luar kaca jendela, kulihat awan semakin hitam, mungkin dalam hitungan menit akan turun hujan yang sangat deras. Tak ada mahasiswa lagi di lantai 1. Segera ku mengayunkan langkah meninggalkan gedung H tempatku kuliah.
 Tes... tes… tes... Titik-titik gerimis sudah mulai menerpa wajahku. Kupercepat langkahku, karena jarak kostku masih jauh. Ah, baru sampai portal kampus, padahal aku sudah setengah berlari. Byur… Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, diiringi angin yang lumayan besar. Aku berlari mencari tempat berteduh. Kulihat di pojok pertigaan, ada warung dengan emper sengnya. Aku segera lari kesana dan berteduh menghindari serbuan air hujan yang datang tiba-tiba.
Sial, belum sampai kost sudah deras, gumamku. Kulihat beberapa mahasiswi bergegas lalu-lalang di depanku sambil memakai payung untuk melawan hujan. Aku jadi ingat ibuku yang menyarankan aku bawa payung. “Bawa aja Le, nanti kalau di Malang hujan, kamu ndak kehujanan.” nasihat ibuku .“Emoh, Bu. Malu, kados cah wedok.” jawabku. Sekarang aku baru sadar, kalau nasihat ibu benar adanya.
Di tengah lamunanku, tiba-tiba sesosok tubuh wanita menabrak tubuhku…
Brukk…
Aku terhuyung. Untung masih bisa bersandar di tembok warung, namun siku tanganku terbentur kerasnya tembok… “Ukh…”, aku sedikit kesakitan.
“Aduh maaf Mas, gak bisa ngerem, lantainya licin…” kata pemilik tubuh yang menabrakku tadi sambil menguncupkan kedua tangannya. “Oh, gak pa-pa…” kataku untuk menenangkan suasanya sambil kubersihkan siku tanganku dari kapur tembok yang menempel.
Kulihat di depanku kini berdiri seorang mahasiswi yang separuh tubuhnya basah kuyup. Rupanya ia juga ingin berteduh, sebelum separuh tubuhnya lagi ikut basah.
Gadis itu mulai menyeka air-air yang membasahi tubuhnya. Kuperhatikan dia. Wajahnya manis, mengingatkanku pada artis Revalina S. Temat, hanya gadis ini agak sedikit sawo matang. Rambutnya lurus sebahu dibiarkan terurai, sehingga tetes-tetes air hujan mengalir melalui rambutnya. Tubuhnya tinggi… Ah, ngapain memperhatikan gadis itu, lebih baik menikmati kacaunya irama air hujan yang menabuh emper  warung ini yang tebuat dari seng.
“Mas, maaf beneran ya… Tadi aku terburu-buru…”si gadis kembali minta maaf. Rupanya dia masih merasa bersalah. “Oh, ya ndak pa-pa… Cuma terbentur dikit, nggak sakit kok.” jawabku.“Tapi mbak gak apa-apa juga ‘kan?” aku ganti bertanya. “Oh, ya mas, gak pa-pa… Untung aku tadi nabrak mas-nya, kalau ndak, aku tadi mungkin udah jatuh… Abis, lantainya basah mas, jadi licin… Sulit ngerem larinya…” jawabnya. Wah, tanya sedikit jawabnya panjang, batinku.
“Lho, mas nya kuliah di sini juga ya?”
“Oh… Iya”
“Jurusan apa?”
“Biologi”
“Program studi pendidikan?”
“He’eh.”, aku mengangguk.
“Wah, calon pak guru nih…”
“Insya Allah.” aku hanya tersenyum simpul.
“Oh ya, kita belum kenalan, namaku Sekar Ayu, mas. Aku jurusan Tata Boga, ambil D3 nya.”dia memperkenalkan diri. Tangannya menjulur ke arahku. Kusambut tangannya. Dingin, karena habis kena air hujan. “Bayu Saputra.” aku memperkenalkan diri.“Ooh, mas Bayu Saputra tho…” dia mengulangi namaku sambil tersenyum.
“Lho, mbak Sekar gak bawa payung?Cewek ‘kan biasanya payungan kalau hujan begini?” aku mulai berani bertanya.Rupanya Sekar Ayu ini anaknya supel dan senang diajak ngobrol.
“Ayu mas, biasanya aku dipanggil Ayu” dia mengoreksi panggilanku padanya.
“Ooo… Mbak Ayu…” aku hanya bisa tersipu.
“Jangan panggil mbak dong mas, aku Maba disini, baru semester 2, jadi barang bawaan masih belum lengkap, termasuk payung… Makanya tiap hujan mesti lari-lari…”lanjut Ayu.
 “Lho, sama dong, aku juga mahasiswa baru…Jadi gak usah panggil mas deh, Bayu aja” jawabku.
“Oh, gitu ya?”
“Iya.. Panggil Bayu aja”jawabku singkat.
“Bayu? Gak, ah… Nama kuno tuh… Saya panggil Bay aja ya?” ujar Ayu tersenyum sambil mengacungkan telunjuknya.
“Terserah deh…” aku seperti gak punya pilihan. “Tapi, kamu juga harus mau kupanggil Ay… Gimana?”tiba-tiba aku menemukan cara membalas perlakuannya.
“Mbales nih critanya…” Ayu tertawa kecil.“Emang kenapa kalau Ayu?Aku gak ‘ayu’ ya?” lanjutnya.
“Bukan aku lho ya yang ngomong…” sergahku.Kami pun tertawa bersama diiringi bunyi hujan yang semakin deras.
Masih sambil tertawa, kuperhatikan dan kunikmati ekspresi wajah Ay, cewek yang baru kukenal ini. “Gak Ay, kamu bukan gak ayu, tapi kamu lebih tepat kalau kusebut manis…” batinku. Benar! Ekspresi wajahnya benar-benar mampu menghadirkan kehangatan dalam jiwaku ditengah suasana dingin kota Malang siang ini. Dan bunyi air hujan yang menerpa atap seng emper warung pojok itu, seolah bersenandung dan mengiringi perkenalan kami.
Selanjutnya, aku dan Ay saling berbagi informasi, nomor HP, alamat kost, hingga urusan pribadi dan kuliah. Saat itu, kutemukan seorang sahabat yang di hari-hari berikutnya dalam kehidupan kami,akan saling berbagi suka dan duka.

Teng…! Teng…! Teng…!

Jam Junghans besar di rumah membangunkanku dari lamunan. Sudah jam 3 sore ternyata. Kulihat hujan di luar sudah mulai reda. Tinggal tetes-tetes kecil yang menghiasi sebelum benar-benar reda. Senandung atap seng pun mulai melirih. Membawaku kembali ke kehidupan nyata.
Aku bangun dari ranjangku. Kuregangkan sejenak otot-ototku yang kaku karena cukup lama kugunakan untuk tengkurap. Kubuka laci mejaku. Kuambil notes kecil di pojok laci. Jariku menari-nari membuka halaman demi halaman notes lusuh itu. “Ah, masih ada…” pekikku pelan.Ya, nomor HP yang dulu pernah dituliskan Ay ternyata masih ada, walaupun tintanya sudah mulai luntur.
Segera kuraih HP yang sedang di-charge di rak buku.Sudah full rupanya. Kutekan-tekan keypad HPku. Sudah lengkap nomor Ay tertulis di layar HP, 081334550018. Namun, mengapa jari ini begitu berat untuk menekan tombol telepon di HPku… Ah, bismillah… Kutekan juga tombol telepon di HPku.Ya, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun kami putus komunikasi, kuhubungi lagi nomor itu.
“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar area, silakan coba beberapa saat lagi. The number you are calling…”.Ah, kuputus suara operator yang belum selesai itu.
Ay… Di manakah kau saat ini? Bagaimana kabarmu setelah 2 tahun lalu kau tinggalkan aku, sahabatmu, untuk pulang ke Trenggalek, kampung halamanmu? Apa alasanmu dulu meninggalkan bangku kuliahmu? Padahal saat itu kau tinggal mengerjakan tugas akhirmu… Kau dulu tak pernah memberitahuku, dengan alasan urusan pribadi. Padahal biasanya kau sangat terbuka kepadaku.
Ay… Sahabatku… Aku rindu dirimu… Aku kangen motivasimu saat aku mengeluh akan tugasku. Aku kangen cerita-cerita indahmu saat aku bersedih. Aku kangen mengantarmu cari bahan dan alat masak untuk praktek kuliahmu. Aku kangen semua yang pernah kita lalui bersama, Ay... Aku sungguh kehilanganmu, Ay…
Semoga kau bahagia Ay… Di manapun kau berada… Sebahagia diriku, Bay, calon pak guru yang dulu sama-sama kehujanan di bawah atap seng emper warung pojok dekat kampus kita…

Probolinggo, Oktober 2011
Untuk Ay, sahabat terbaikku…