Sabtu, 10 Desember 2011

Kisah Pohon Apel

Kembali, saya tampilkan tulisan relokasi catatan saya di Facebook pada tanggal 20 Agustus 2010 sebagai hadiah ulang tahun Bapak saya. Tulisan ini bercerita tentang hubungan seorang anak lelaki dengan sebatang pohon apel. Bagaimana bentuk hubungan mereka? Silakan mengikuti cerita pendek penuh hikmah berikut ini. Selamat membaca!

* * *
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... Tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku." kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar ?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." Jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." Kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang manusia. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara manusia memperlakukan orang tua.

Ditulis kembali dari www.madinatulilmi.com

Rabu, 07 Desember 2011

Something about Girl's Secret

Sebelum aktif di blog ini, saya sering menulis atau sekedar copy-paste-edit (COPASED) artikel dari sumber lain dan mem-posting-nya di catatan Facebook. Namun, sejak saya punya blog ini, hobi tulis-menulis saya lebih terfokus lewat sarana ini, walaupun masih ada beberapa catatan yang saya buat di Facebook. Rencananya, tulisan-tulisan saya di catatan Facebook tersebut akan saya relokasi di blog ini agar lebih terpusat. Berikut adalah salah satu relokasi artikel COPASED yang pernah saya share di catatan Facebook pada tanggal 5 September 2011 yang lalu. Selamat menikmati!

Something about Girl's Secret


When she walks away from you, follow her.
Pada saat ia pergi menjauh darimu, ikutilah dia …

When she pushes you or hits you, grab her and don’t let go.
Pada saat ia mendorongmu atau memukulmu, genggamlah erat dia dan jangan lepaskan …

When she start’s cussing at you, dont cuss back and make her feel worse. Just deal with it for the time being.
Pada saat ia menyalahkanmu, jangan menyalahkan balik sehingga ia merasa lebih buruk. Terima saja untuk sementara waktu…

When she’s quiet, ask her whats wrong, But not a billion times when she says nothing.
Pada saat ia terdiam, tanyakanlah masalah apa yang sedang ia hadapi, tapi jangan memaksa bila ia tidak ingin bercerita…

When she’s ignore you, give her your attention.
Pada saat ia mengacuhkanmu, berikan dia perhatianmu …

When she pulls away, pull her back.
Pada saat ia pergi menjauh, tarik ia kembali …

When you see her star crying, just hold her and don’t say a word.
Pada saat kamu melihat ia menangis, peganglah tangannya dan jangan bicara satu kata pun …

When she scared, protect her.
Pada saat ia merasa takut, lindungilah dia …

When she lay’s her head on your shoulder, tilt her head up and kiss her.
Pada saat ia menyandarkan kepalanya ke bahumu, angkatlah kepalanya dan cium dia …

When she steal your favorite shirt, let her keep it and sleep with it for a night.
Pada saat dia mencuri kaos favoritmu, biarkan ia menyimpannya untuk satu malam …

When she teases you, tease her back and make her laugh.
Pada saat ia menjailimu, jaili ia kembali dan buatlah ia tertawa …

When she doesn’t answer your call for a long time, reassur her that everything is okay.
Pada saat ia tidak menjawab telepon panggilanmu, pastikan bahwa ia baik baik saja …

When she say she likes you, she really does more than you could understand completly true.
Pada saat ia mengatakan ia menyukaimu, ia benar-benar menyukaimu melebihi apa yang kamu ketahui …

When she looks at you in your eyes, don’t look away until she does.
Pada saat ia melihat kedalam matamu, pandanglah juga kedalam matanya sampai ia berpaling …

When she tell you a secret, keep it safe and untold.
Pada saat ia memberitahumu sebuah rahasia, jagalah dan jangan pernah dibongkar …

When she misses you, she’s hurting inside.
Pada saat ia merindukanmu, sesungguhnya di dalam hatinya ia merasa sakit …

When you break her heart, the pain never really goes away.
Pada saat kamu mematahkan hatinya, sesungguhnya rasa sakit tersebut tidak pernah hilang …

When she say it’s all over, she still want you to be hers !!
Pada saat ia mengatakan semua ini sudah berakhir, sesungguhnya ia masih ingin memiliki mu …

Adapted from http://nolimitz.web.id/

Selasa, 06 Desember 2011

Jenis dan Bentuk Awan

Siang tadi (06/12), di sela-sela mengerjakan tugas kuliah, saya berencana memulai menulis cerpen sebagai pengendur ketegangan saraf. Kata demi kata mulai terketik di laptop membentuk satu paragraf pendahuluan. Memasuki paragraf kedua, saya sedikit mengalami gangguan. Ceritanya saya ingin menggambarkan suasana di tepi pantai ketika sore hari. Setting alam saat itu, rencananya adalah temaram senja di mana matahari tertutup awan. Nah, di situlah letak 'gangguan' yang saya alami. Bermaksud ingin membawa nuansa ilmiah dalam cerpen, saya bingung menulis jenis awan yang ingin saya ceritakan tadi: Cumulus atau Sirus? (dua jenis awan yang saya ingat saat belajar Geografi dulu)


Tak ingin memendam hasrat, saya pun browsing jenis awan yang bergantian menyelimuti bumi ini. Hasilnya, ternyata ada beberapa jenis awan berdasarkan penampakannya. Apa saja mereka? Nah, berikut jenis dan bentuk awan yang saya dapatkan dari hasil browsing tadi.


Stratus
Awan stratus berupa awan rendah yang seragam umumnya berwarna kelabu tetapi tidak menyentuh permukaan bumi. 

Cumulus
Awan cumulus pada umumnya mampat dan berbentuk gumpalan yang menjulang.


Cirrus
Awan cirrus tampak tersusun dari serat lembut dan halus berwarna putih mengkilap bagaikan sutera.

Altocumulus
Awan altocumulus berupa lapisan  berwarna putih atau kelabu yang terdiri dari unsur-unsur berbentuk bulatan pipih.

Altostratus
Awan altostratus berupa awan yang nampak berserat/seragam tapi berwarna kelabu/kebiruan menutupi sebagian/seluruh langit.


Cumulonimbus
Awan cumulonimbus merupakan awan yang sangat mampat dan padat menjulang tinggi menjadi gumpalan yang besar, pada awan ini dapat mengangkut 300.000 ton air biasa juga disebut awan badai.

Nimbostratus
Awan nimbostratus berupa lapisan awan yang seragam, luas dan berwarna kelabu tua.

Cirrocumulus
Awan cirrocumulus adalah lapisan awan yang terdiri dari unsur kecil menyerupai butir atau biji padi-padian tanpa bayangan seperti sirrus.

Cirrostratus
Awan cirrostratus tampak seperti tirai kelambu halus keputih-putihan. 

Stratocumulus
Awan stratocumulus berupa lapisan awan yang terdiri dari unsur bulatan pipih/memanjang berwarna kelabu. Masing-masing unsur dapat saling menyambung.


Nah, itu tadi beberapa jenis dan bentuk awan. Untuk informasi lebih lengkap tentang jenis dan bentuk awan di atas bisa Anda dapatkan dari beberapa situs penyedia informasi lainnya. Akhirnya, setelah saya timbang-timbang, rasanya awan stratocumulus sangat cocok untuk memberikan kesan temaramnya senja sebagai setting cerpen saya.


Ah, gara-gara cerpen jadi bisa berbagi ilmu... Alhamdulillah... :) Semoga bermanfaat...